Menolak
untuk Mengerti
Halo,
nama saya Samantha, saya berumur 17 tahun, dan sejak lahir saya tinggal di
Jakarta. Saya bukan orang penting di negara ini sekarang, tetapi saya
menganggap diri saya warga negara Indonesia, yang berhak mengungkapkan
pendapatnya. Terlebih dengan konflik-konflik yang terjadi beberapa bulan ini,
yang dapat saya katakan bukan masalah baru di negeri tercinta ini, melainkan
konflik lama yang dibiarkan, sehingga dapat dimanfaatkan dan dibesar-besarkan
oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab. Rasanya miris, ketika saya
melihat Negara Indonesia semakin dipenuhi oleh banyak penjajah yang berasal
dari dalam negeri ini sendiri.
Saya
tidak akan berbohong, sebelum pilkada DKI tahun ini, memang sudah ada isu-isu
SARA yang beredar di lingkungan Jakarta, tetapi mungkin belum terlihat atau
disorot oleh sebagian masyarakat. Atau, mungkin sebenarnya terlihat tetapi kita
DIAM, membiarkan itu tetap mengalir, menyebar ke banyak orang. Saya termasuk orang
yang pernah diam, ketika orang lain mengatakan kalimat yang mengacu provokasi
dan perpecahan bangsa. Karena saya pikir itu isu lama, dan malas juga
mengomentari orang-orang seperti itu. Tetapi ternyata semakin kesini, semakin
marak isu SARA di Indonesia, dan untuk sekarang saya akan lebih membahas isu yang
terjadi di lingkungan saya, Jakarta.
Tadi
pagi, saya sedang mengobrol dengan mama, dan tiba-tiba ia berkata bahwa isu
SARA yang bermotif POLITIK, sudah masuk ke lapisan orang tua di sekolah saya.
Ternyata di salah satu grup media sosial, yang isinya orang tua siswa, ada
seorang ibu/bapak yang menyebarkan informasi yang jelas-jelas bermotif rasis,
karena berisikan kata-kata cina dan
kafir. Setelah ditegur oleh guru yang mengawasi, barulah kondisi di dalam
grup itu netral kembali. Setelah mendengar cerita itu, saya merasa heran dan
geli pada ibu/bapak yang menyebarkan info tersebut, karena pasti ia tau di dalam
grup itu anggotanya menganut/memiliki agama, suku, etnis yang berbeda-beda.
Disini beberapa kesimpulan dapat saya ambil, bahwa orang-orang seperti itu
sudah tidak memiliki rasa kepedulian akan sesamanya, juga rasa persatuan di
hatinya.
Itu
bukan pertama kali isu SARA terjadi di lingkungan saya. Beberapa orang
disekitar saya, tidak segan-segan mengeluarkan kalimat seperti: “Masa kamu mau orang non-muslim yang jadi
pemimpin kamu.” “Ahok itu kan komunis, cina lagi, ngapain dipilih.” “Indonesia
ini kan negaranya islam.” dll. Sekarang saya bertanya pada anda, apakah
pantas kalimat itu dikeluarkan di lingkungan masyarakat, seperti di sekolah,
kantor, maupun tempat-tempat umum lainnya? Apakah kalimat itu pantas
dikeluarkan oleh seorang Warga Negara Indonesia, yang jelas-jelas dulu sejarah
kemerdekaannya, diperjuangkan oleh banyak pahlawan yang berbeda-beda agama,
suku, etnis, dan ras nya?. Saya yakin, banyak masyarakat yang sering mendengar
kalimat-kalimat tersebut juga di lingkungannya, bukan hanya saya. Terkadang isu
SARA seperti ini bukan sekedar tentang Pilkada saja, tetapi tentang dasar
negara yang ternyata masih belum dimengerti oleh beberapa pihak masyarakat… atau
bisa juga beberapa pihak menolak untuk mengerti dasar negara sendiri.
Di
tulisan ini, saya tidak akan menuliskan opini tentang oknum-oknum politik yang
sepertinya ada dibalik isu SARA, saat Pilkada DKI tahun ini. Tetapi mungkin akan
saya bahas di tulisan yang berikutnya. Tetapi disini saya hanya ingin menekankan
kesimpulan yang saya dapat, saat mengamati isu-isu SARA yang sedang terjadi di
lingkungan saya. Yaitu bahwa, terkadang orang-orang yang menyebarkan isu SARA
itu adalah orang yang berpendidikan, dan mampu menghidupi dirinya bahkan orang
lain dengan kekayaannya. Mereka tau tentang semboyan berbeda-beda tetapi tetapi
satu, mereka tau tentang pancasila, tetapi terkadang mereka menolak untuk
mengerti. Ada banyak alasan mereka melakukan hal itu, tetapi menurut saya tidak
ada toleransi untuk orang-orang yang ingin memecahbelahkan persatuan negara,
dengan kata-kata mereka sendiri.
Jadi,
tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan pemerintah dalam isu SARA ini, walaupun
tidak dapat dipungkiri pemerintah juga berperan dalam mengatasi isu ini.
Tetapi, saya percaya Jakarta, bahkan seluruh Indonesia, mampu mengatasi isu
lama ini. Dengan cara menjunjung tinggi karakteristik negara kita, yang dulu
diciptakan para pelopor kemerdekaan Indonesia, yang tanpa memandang bulu,
bersatu menggapai kemerdekaan negara ini. Jika kita dapat saling merangkul lagi
dan bekerja keras untuk memajukan negara ini (dalam berbagai aspek), saya
percaya saat target Indonesia tercapai, kita akan menoleh kembali ke saat ini,
dan tersenyum lega karena tidak membuat satu isu menghancurkan perjuangan kita
selama ini. Karena saya tau, masih banyak pahlawan-pahlawan Indonesia yang akan
muncul di masa depan, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Samantha, 1 April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar