Rabu, 23 Agustus 2017

Merpati Terbang

Merpatiku Terbang

satu merpati
terbang ke langit
bertemu yang damai
selamanya

tak dia tau
seorangpun tak tau
kapankah dia mau
ikuti alunan lagu

dan apakah ini
akhir kisah ini
seorang merpati
terbang dari bumi

layaknya kita
ingin bertemu dirinya
memeluk dirinya
berkata kau dicintainya

oh merpati
kau terbang lagi
jangan sakit disana
oh jangan bersedih

kita kan bertemu lagi
tak tau kapan
tapi ku ingat kau
merpati...

dan segala kerjamu
segala pelayanan mu
tak kan terlupakan
sampai kapapun
oh merpatiku...


Sabtu, 03 Juni 2017

Orang Indonesia, apa bukan?



Orang Indonesia, apa bukan?
Tulisan bertema ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis. Tetapi sejak ada satu peristiwa yang menimpa Jakarta yang benar-benar membuat saya kecewa akan hukum dan politik negara ini. Saya merasa sedikit buntu ide, atau buntu pikiran untuk tulisan saya. Saya takut jika saya kembali menulis, kegeraman, kekecewaan saya, yang sudah dengan sangat susah saya sembunyikan, kembali lagi terasa. Mengapa saya mulai menulis lagi? Karena beberapa hari yang lalu, saya menerima video dari teman saya, yang berisikan anak remaja berkebangsaan Indonesia, dikerumuni dan ditindas secara massal, dengan orang-orang dewasa yang mirisnya berkebangsaan Indonesia juga. Ini yang sangat miris, kok sesama rakyat, satu nusa satu bangsa, malah mengitimidasi dan menyerang? bukannya kita satu kesatuan? bukannya dasar negara kita pancasila? Mereka, yang mengintimidasi atau melakukan persekusi itu, orang indonesia apa bukan?
Geram rasanya, ketika melihat saudara setanah air dan sebangsa saya, diperlakukan secara rendah seperti yang terlihat di video tersebut. Dengan congkaknya, salah satu dari mereka (yang mengaku anggota FPI) dengan jelas mengatakan “Eh, besok elu temen-temen lu, yang sama etnis kayak lu juga, lo bilangin…” tidak perlu lah saya lanjutkan perkataan orang congkak tersebut, intinya ia memperingati anak tersebut dan teman-teman se-etnisnya, untuk tidak menghina ulama kebanggaan dirinya, Habib Rizieq. Yang saya tidak habis pikir itu, orang congkak tidak tau diri itu mensangkut-pautkan ETNIS anak tersebut. Padahal, saudara-saudara yang sedang membaca tulisan ini, baru beberapa waktu yang lalu, ketika HTI dibubarkan pemerintah, salah satu anggota FPI dengan jelas mewakilkan anggota FPI lainnya mengatakan, FPI  menganut dasar negara ini yaitu pancasila. Sekarang saya tanya, pancasila memang berpihak pada satu etnis? Pancasila memangnya membatasi hak dan keadilan seseorang, karena ETNIS nya? PANCASILA MANA yang mereka maksud? Disini, melihat kenyataan miris yang ada di negara saya sendiri, saya bersyukur presiden sudah bergerak membuat Unit Kerja Pembinaan Ideologi Pancasila, karena terlihat, masih banyak RAKYAT INDONESIA sendiri, yang lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, tetapi tidak mengerti dasar negara Indonesia.
Tidak sampai disitu, beberapa orang yang mengaku anggota FPI, dengan bangganya menertawai anak itu, karena anak tersebut terlihat diam dan terintimidasi. Sampai-sampai, ada beberapa orang yang, MENAMPAR dan MEMUKUL anak tersebut. Wah hebat sekali kalian, sudah mengatasnamakan agama, berkoar-koar membela seseorang yang tidak tau dimana, sekarang kalian kotori seorang anak dengan perilaku kalian? Jika ini merupakan definisi kalian akan aksi pembelaan agama dan ulama yang selama ini kalian bangga-banggakan, seharusnya kalian malu. Malu akan aksi inteloran, dan aksi persekusi (perburuan sewenang-wenangnya) yang tidak berkeperimanusiaan dan melenceng dari dasar negara ini. Untuk setiap orang yang ikut dalam persekusi tersebut, harusnya kewarganegaraan kalian dipertanyakan, kalian itu orang Indonesia, apa bukan?
Sekarang beberapa orang sudah tertangkap, dan alasan-alasan yang dikeluarkan dari mulut tersangka sangatlah tidak masuk. “Saya tidak tahu dia anak kecil…” “Saya kesal dia menghina agama saya…” Oh ayolah, hanya karena perbedaan pendapat, dan merasa terhina anda melakukan persekusi?. Sepertinya baru beberapa bulan yang lalu, FPI dengan fanatiknya menyuruh Pak Ahok menghormati hukum dan HAM mereka, nah sekarang saya tanya balik, anda-anda yang ikut mengintimidasi anak tersebut, menghormati hak asasi manusia anak tersebut tidak? Bukannya kekerasan dan intimidasi merupakan pelanggaran HAM juga?
Oh, maafkan saya membawa-bawa HAM, karena baru bulan lalu saya mengikuti ujian akhir sekolah, dan untuk mata pelajaran PKN, materinya HAM. Mau tau hubungannya apa? Pasal-pasal HAM sangat banyak, bahkan saya berulang-ulang membacanya karena harus diafal dan dipahami. Miris, ketika anak sekolahan disuruh menghafal dan memahami pasal-pasal hukum HAM, tetapi diluar sana masih banyak oknum-oknum yang bisa melanggar HAM seseorang, dengan alasan yang bermotif SARA dan kepentingan pribadi. Intinya apa? Gak usahlah, mengemis-ngemis orang untuk menghormati hak mu, kalau kamu saja tidak mau menghormati hak orang lain.
Disini saya menegaskan, dan mengutuk segala perbuatan persekusi dan kekerasan, yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh pihak yang mengaku anggota organisasi FPI, dan juga berbagai macam oknum yang masih belum terungkap identitasnya. Saya tidak peduli, mau mereka benar-benar dari organisasi terkenal dan besar seperti FPI, ataupun ada tokoh-tokoh besar, yang ingin membungkam mulut masyarakat yang berbeda pendapat dengan mereka. Jangan kotori negara ini karena kepentingan pribadi. Jangan kotori negara ini karena sifat burukmu. Jangan kotori perjuangan negara ini, karena dasar negara ini tidak sesuai dengan pemikiranmu. Ini negara kesatuan. Kalau prinsip mu tidak sama dengan prinsip negara ini, silahkan keluar, tidak ada yang melarang.
Untuk generasi penerus, saudara-saudara setanah air dan sebangsa, dari sabang sampa merauke, saya ingin bersuara lewat tulisan ini, jangan pernah berhenti bersuara. Tapi ingat juga akan dasar negara kita, jangan menyuarakan hal-hal yang tidak benar dan melenceng dari pancasila, melainkan suarakan lah kebenaran. Jangan sampai kita menjadi kambing hitam, dari oknum-oknum tidak bertanggung-jawab. Saya juga masih harus belajar banyak dalam menyuarakan pendapat saya, dan saya meminta maaf jika tulisan saya menyinggung beberapa pihak, tetapi satu tujuan saya menulis tulisan ini. Supaya kesatuan negara ini tidak dihancurkan, oleh oknum-oknum yang jelas-jelas dapat memecah-belahkan Indonesia, tetapi menganggap diri mereka sebagai pahlawan kebenaran. Selalu ingat sejarah, dan perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang bersatu, dan berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan Indonesia.
Tulisan ini saya tutup dengan salah satu perkataan Bung Karno,
“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” – Bung Karno

Jumat, 31 Maret 2017

Menolak Untuk Mengerti



Menolak untuk Mengerti
Halo, nama saya Samantha, saya berumur 17 tahun, dan sejak lahir saya tinggal di Jakarta. Saya bukan orang penting di negara ini sekarang, tetapi saya menganggap diri saya warga negara Indonesia, yang berhak mengungkapkan pendapatnya. Terlebih dengan konflik-konflik yang terjadi beberapa bulan ini, yang dapat saya katakan bukan masalah baru di negeri tercinta ini, melainkan konflik lama yang dibiarkan, sehingga dapat dimanfaatkan dan dibesar-besarkan oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab. Rasanya miris, ketika saya melihat Negara Indonesia semakin dipenuhi oleh banyak penjajah yang berasal dari dalam negeri ini sendiri.
Saya tidak akan berbohong, sebelum pilkada DKI tahun ini, memang sudah ada isu-isu SARA yang beredar di lingkungan Jakarta, tetapi mungkin belum terlihat atau disorot oleh sebagian masyarakat. Atau, mungkin sebenarnya terlihat tetapi kita DIAM, membiarkan itu tetap mengalir, menyebar ke banyak orang. Saya termasuk orang yang pernah diam, ketika orang lain mengatakan kalimat yang mengacu provokasi dan perpecahan bangsa. Karena saya pikir itu isu lama, dan malas juga mengomentari orang-orang seperti itu. Tetapi ternyata semakin kesini, semakin marak isu SARA di Indonesia, dan untuk sekarang saya akan lebih membahas isu yang terjadi di lingkungan saya, Jakarta.
Tadi pagi, saya sedang mengobrol dengan mama, dan tiba-tiba ia berkata bahwa isu SARA yang bermotif POLITIK, sudah masuk ke lapisan orang tua di sekolah saya. Ternyata di salah satu grup media sosial, yang isinya orang tua siswa, ada seorang ibu/bapak yang menyebarkan informasi yang jelas-jelas bermotif rasis, karena berisikan kata-kata cina dan kafir. Setelah ditegur oleh guru yang mengawasi, barulah kondisi di dalam grup itu netral kembali. Setelah mendengar cerita itu, saya merasa heran dan geli pada ibu/bapak yang menyebarkan info tersebut, karena pasti ia tau di dalam grup itu anggotanya menganut/memiliki agama, suku, etnis yang berbeda-beda. Disini beberapa kesimpulan dapat saya ambil, bahwa orang-orang seperti itu sudah tidak memiliki rasa kepedulian akan sesamanya, juga rasa persatuan di hatinya.
Itu bukan pertama kali isu SARA terjadi di lingkungan saya. Beberapa orang disekitar saya, tidak segan-segan mengeluarkan kalimat seperti: “Masa kamu mau orang non-muslim yang jadi pemimpin kamu.” “Ahok itu kan komunis, cina lagi, ngapain dipilih.” “Indonesia ini kan negaranya islam.” dll. Sekarang saya bertanya pada anda, apakah pantas kalimat itu dikeluarkan di lingkungan masyarakat, seperti di sekolah, kantor, maupun tempat-tempat umum lainnya? Apakah kalimat itu pantas dikeluarkan oleh seorang Warga Negara Indonesia, yang jelas-jelas dulu sejarah kemerdekaannya, diperjuangkan oleh banyak pahlawan yang berbeda-beda agama, suku, etnis, dan ras nya?. Saya yakin, banyak masyarakat yang sering mendengar kalimat-kalimat tersebut juga di lingkungannya, bukan hanya saya. Terkadang isu SARA seperti ini bukan sekedar tentang Pilkada saja, tetapi tentang dasar negara yang ternyata masih belum dimengerti oleh beberapa pihak masyarakat… atau bisa juga beberapa pihak menolak untuk mengerti dasar negara sendiri.
Di tulisan ini, saya tidak akan menuliskan opini tentang oknum-oknum politik yang sepertinya ada dibalik isu SARA, saat Pilkada DKI tahun ini. Tetapi mungkin akan saya bahas di tulisan yang berikutnya. Tetapi disini saya hanya ingin menekankan kesimpulan yang saya dapat, saat mengamati isu-isu SARA yang sedang terjadi di lingkungan saya. Yaitu bahwa, terkadang orang-orang yang menyebarkan isu SARA itu adalah orang yang berpendidikan, dan mampu menghidupi dirinya bahkan orang lain dengan kekayaannya. Mereka tau tentang semboyan berbeda-beda tetapi tetapi satu, mereka tau tentang pancasila, tetapi terkadang mereka menolak untuk mengerti. Ada banyak alasan mereka melakukan hal itu, tetapi menurut saya tidak ada toleransi untuk orang-orang yang ingin memecahbelahkan persatuan negara, dengan kata-kata mereka sendiri.
Jadi, tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan pemerintah dalam isu SARA ini, walaupun tidak dapat dipungkiri pemerintah juga berperan dalam mengatasi isu ini. Tetapi, saya percaya Jakarta, bahkan seluruh Indonesia, mampu mengatasi isu lama ini. Dengan cara menjunjung tinggi karakteristik negara kita, yang dulu diciptakan para pelopor kemerdekaan Indonesia, yang tanpa memandang bulu, bersatu menggapai kemerdekaan negara ini. Jika kita dapat saling merangkul lagi dan bekerja keras untuk memajukan negara ini (dalam berbagai aspek), saya percaya saat target Indonesia tercapai, kita akan menoleh kembali ke saat ini, dan tersenyum lega karena tidak membuat satu isu menghancurkan perjuangan kita selama ini. Karena saya tau, masih banyak pahlawan-pahlawan Indonesia yang akan muncul di masa depan, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Samantha, 1 April 2017