Sabtu, 03 Juni 2017

Orang Indonesia, apa bukan?



Orang Indonesia, apa bukan?
Tulisan bertema ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis. Tetapi sejak ada satu peristiwa yang menimpa Jakarta yang benar-benar membuat saya kecewa akan hukum dan politik negara ini. Saya merasa sedikit buntu ide, atau buntu pikiran untuk tulisan saya. Saya takut jika saya kembali menulis, kegeraman, kekecewaan saya, yang sudah dengan sangat susah saya sembunyikan, kembali lagi terasa. Mengapa saya mulai menulis lagi? Karena beberapa hari yang lalu, saya menerima video dari teman saya, yang berisikan anak remaja berkebangsaan Indonesia, dikerumuni dan ditindas secara massal, dengan orang-orang dewasa yang mirisnya berkebangsaan Indonesia juga. Ini yang sangat miris, kok sesama rakyat, satu nusa satu bangsa, malah mengitimidasi dan menyerang? bukannya kita satu kesatuan? bukannya dasar negara kita pancasila? Mereka, yang mengintimidasi atau melakukan persekusi itu, orang indonesia apa bukan?
Geram rasanya, ketika melihat saudara setanah air dan sebangsa saya, diperlakukan secara rendah seperti yang terlihat di video tersebut. Dengan congkaknya, salah satu dari mereka (yang mengaku anggota FPI) dengan jelas mengatakan “Eh, besok elu temen-temen lu, yang sama etnis kayak lu juga, lo bilangin…” tidak perlu lah saya lanjutkan perkataan orang congkak tersebut, intinya ia memperingati anak tersebut dan teman-teman se-etnisnya, untuk tidak menghina ulama kebanggaan dirinya, Habib Rizieq. Yang saya tidak habis pikir itu, orang congkak tidak tau diri itu mensangkut-pautkan ETNIS anak tersebut. Padahal, saudara-saudara yang sedang membaca tulisan ini, baru beberapa waktu yang lalu, ketika HTI dibubarkan pemerintah, salah satu anggota FPI dengan jelas mewakilkan anggota FPI lainnya mengatakan, FPI  menganut dasar negara ini yaitu pancasila. Sekarang saya tanya, pancasila memang berpihak pada satu etnis? Pancasila memangnya membatasi hak dan keadilan seseorang, karena ETNIS nya? PANCASILA MANA yang mereka maksud? Disini, melihat kenyataan miris yang ada di negara saya sendiri, saya bersyukur presiden sudah bergerak membuat Unit Kerja Pembinaan Ideologi Pancasila, karena terlihat, masih banyak RAKYAT INDONESIA sendiri, yang lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, tetapi tidak mengerti dasar negara Indonesia.
Tidak sampai disitu, beberapa orang yang mengaku anggota FPI, dengan bangganya menertawai anak itu, karena anak tersebut terlihat diam dan terintimidasi. Sampai-sampai, ada beberapa orang yang, MENAMPAR dan MEMUKUL anak tersebut. Wah hebat sekali kalian, sudah mengatasnamakan agama, berkoar-koar membela seseorang yang tidak tau dimana, sekarang kalian kotori seorang anak dengan perilaku kalian? Jika ini merupakan definisi kalian akan aksi pembelaan agama dan ulama yang selama ini kalian bangga-banggakan, seharusnya kalian malu. Malu akan aksi inteloran, dan aksi persekusi (perburuan sewenang-wenangnya) yang tidak berkeperimanusiaan dan melenceng dari dasar negara ini. Untuk setiap orang yang ikut dalam persekusi tersebut, harusnya kewarganegaraan kalian dipertanyakan, kalian itu orang Indonesia, apa bukan?
Sekarang beberapa orang sudah tertangkap, dan alasan-alasan yang dikeluarkan dari mulut tersangka sangatlah tidak masuk. “Saya tidak tahu dia anak kecil…” “Saya kesal dia menghina agama saya…” Oh ayolah, hanya karena perbedaan pendapat, dan merasa terhina anda melakukan persekusi?. Sepertinya baru beberapa bulan yang lalu, FPI dengan fanatiknya menyuruh Pak Ahok menghormati hukum dan HAM mereka, nah sekarang saya tanya balik, anda-anda yang ikut mengintimidasi anak tersebut, menghormati hak asasi manusia anak tersebut tidak? Bukannya kekerasan dan intimidasi merupakan pelanggaran HAM juga?
Oh, maafkan saya membawa-bawa HAM, karena baru bulan lalu saya mengikuti ujian akhir sekolah, dan untuk mata pelajaran PKN, materinya HAM. Mau tau hubungannya apa? Pasal-pasal HAM sangat banyak, bahkan saya berulang-ulang membacanya karena harus diafal dan dipahami. Miris, ketika anak sekolahan disuruh menghafal dan memahami pasal-pasal hukum HAM, tetapi diluar sana masih banyak oknum-oknum yang bisa melanggar HAM seseorang, dengan alasan yang bermotif SARA dan kepentingan pribadi. Intinya apa? Gak usahlah, mengemis-ngemis orang untuk menghormati hak mu, kalau kamu saja tidak mau menghormati hak orang lain.
Disini saya menegaskan, dan mengutuk segala perbuatan persekusi dan kekerasan, yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh pihak yang mengaku anggota organisasi FPI, dan juga berbagai macam oknum yang masih belum terungkap identitasnya. Saya tidak peduli, mau mereka benar-benar dari organisasi terkenal dan besar seperti FPI, ataupun ada tokoh-tokoh besar, yang ingin membungkam mulut masyarakat yang berbeda pendapat dengan mereka. Jangan kotori negara ini karena kepentingan pribadi. Jangan kotori negara ini karena sifat burukmu. Jangan kotori perjuangan negara ini, karena dasar negara ini tidak sesuai dengan pemikiranmu. Ini negara kesatuan. Kalau prinsip mu tidak sama dengan prinsip negara ini, silahkan keluar, tidak ada yang melarang.
Untuk generasi penerus, saudara-saudara setanah air dan sebangsa, dari sabang sampa merauke, saya ingin bersuara lewat tulisan ini, jangan pernah berhenti bersuara. Tapi ingat juga akan dasar negara kita, jangan menyuarakan hal-hal yang tidak benar dan melenceng dari pancasila, melainkan suarakan lah kebenaran. Jangan sampai kita menjadi kambing hitam, dari oknum-oknum tidak bertanggung-jawab. Saya juga masih harus belajar banyak dalam menyuarakan pendapat saya, dan saya meminta maaf jika tulisan saya menyinggung beberapa pihak, tetapi satu tujuan saya menulis tulisan ini. Supaya kesatuan negara ini tidak dihancurkan, oleh oknum-oknum yang jelas-jelas dapat memecah-belahkan Indonesia, tetapi menganggap diri mereka sebagai pahlawan kebenaran. Selalu ingat sejarah, dan perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang bersatu, dan berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan Indonesia.
Tulisan ini saya tutup dengan salah satu perkataan Bung Karno,
“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” – Bung Karno