Orang
Indonesia, apa bukan?
Tulisan bertema ini
sebenarnya sudah lama ingin saya tulis. Tetapi sejak ada satu peristiwa yang
menimpa Jakarta yang benar-benar membuat saya kecewa akan hukum dan politik
negara ini. Saya merasa sedikit buntu ide, atau buntu pikiran untuk tulisan
saya. Saya takut jika saya kembali menulis, kegeraman, kekecewaan saya, yang
sudah dengan sangat susah saya sembunyikan, kembali lagi terasa. Mengapa saya
mulai menulis lagi? Karena beberapa hari yang lalu, saya menerima video dari
teman saya, yang berisikan anak remaja berkebangsaan Indonesia, dikerumuni dan
ditindas secara massal, dengan orang-orang dewasa yang mirisnya berkebangsaan
Indonesia juga. Ini yang sangat miris, kok sesama rakyat, satu nusa satu
bangsa, malah mengitimidasi dan menyerang? bukannya kita satu kesatuan?
bukannya dasar negara kita pancasila? Mereka, yang mengintimidasi atau
melakukan persekusi itu, orang indonesia apa bukan?
Geram rasanya, ketika
melihat saudara setanah air dan sebangsa saya, diperlakukan secara rendah seperti
yang terlihat di video tersebut. Dengan congkaknya, salah satu dari mereka (yang mengaku anggota
FPI) dengan jelas mengatakan “Eh, besok
elu temen-temen lu, yang sama etnis
kayak lu juga, lo bilangin…” tidak perlu lah saya lanjutkan perkataan orang
congkak tersebut, intinya ia memperingati anak tersebut dan teman-teman
se-etnisnya, untuk tidak menghina ulama kebanggaan dirinya, Habib Rizieq. Yang
saya tidak habis pikir itu, orang congkak tidak tau diri itu mensangkut-pautkan
ETNIS anak tersebut. Padahal, saudara-saudara yang sedang membaca tulisan ini,
baru beberapa waktu yang lalu, ketika HTI dibubarkan pemerintah, salah satu
anggota FPI dengan jelas mewakilkan anggota FPI lainnya mengatakan, FPI menganut dasar negara ini yaitu pancasila.
Sekarang saya tanya, pancasila memang berpihak pada satu etnis? Pancasila
memangnya membatasi hak dan keadilan seseorang, karena ETNIS nya? PANCASILA
MANA yang mereka maksud? Disini, melihat kenyataan miris yang ada di negara
saya sendiri, saya bersyukur presiden sudah bergerak membuat Unit Kerja
Pembinaan Ideologi Pancasila, karena terlihat, masih banyak RAKYAT INDONESIA
sendiri, yang lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, tetapi tidak mengerti
dasar negara Indonesia.
Tidak sampai disitu,
beberapa orang yang mengaku anggota FPI, dengan bangganya menertawai anak itu, karena anak
tersebut terlihat diam dan terintimidasi. Sampai-sampai, ada beberapa orang
yang, MENAMPAR dan MEMUKUL anak tersebut. Wah hebat sekali kalian, sudah
mengatasnamakan agama, berkoar-koar membela seseorang yang tidak tau dimana,
sekarang kalian kotori seorang anak dengan perilaku kalian? Jika ini merupakan
definisi kalian akan aksi pembelaan agama dan ulama yang selama ini kalian
bangga-banggakan, seharusnya kalian malu. Malu akan aksi inteloran, dan aksi
persekusi (perburuan sewenang-wenangnya) yang tidak berkeperimanusiaan dan
melenceng dari dasar negara ini. Untuk setiap orang yang ikut dalam persekusi
tersebut, harusnya kewarganegaraan kalian dipertanyakan, kalian itu orang
Indonesia, apa bukan?
Sekarang beberapa orang
sudah tertangkap, dan alasan-alasan yang dikeluarkan dari mulut tersangka
sangatlah tidak masuk. “Saya tidak tahu dia anak kecil…” “Saya kesal dia
menghina agama saya…” Oh ayolah, hanya karena perbedaan pendapat, dan merasa
terhina anda melakukan persekusi?. Sepertinya baru beberapa bulan yang lalu,
FPI dengan fanatiknya menyuruh Pak Ahok menghormati hukum dan HAM mereka, nah
sekarang saya tanya balik, anda-anda yang ikut mengintimidasi anak tersebut,
menghormati hak asasi manusia anak tersebut tidak? Bukannya kekerasan dan
intimidasi merupakan pelanggaran HAM juga?
Oh, maafkan saya
membawa-bawa HAM, karena baru bulan lalu saya mengikuti ujian akhir sekolah,
dan untuk mata pelajaran PKN, materinya HAM. Mau tau hubungannya apa?
Pasal-pasal HAM sangat banyak, bahkan saya berulang-ulang membacanya karena
harus diafal dan dipahami. Miris, ketika anak sekolahan disuruh menghafal dan
memahami pasal-pasal hukum HAM, tetapi diluar sana masih banyak oknum-oknum
yang bisa melanggar HAM seseorang, dengan alasan yang bermotif SARA dan
kepentingan pribadi. Intinya apa? Gak usahlah, mengemis-ngemis orang untuk menghormati
hak mu, kalau kamu saja tidak mau menghormati hak orang lain.
Disini saya menegaskan,
dan mengutuk segala perbuatan persekusi dan kekerasan, yang dilakukan secara
sewenang-wenang oleh pihak yang mengaku anggota organisasi FPI, dan juga berbagai macam oknum yang masih belum
terungkap identitasnya. Saya tidak peduli, mau mereka benar-benar dari organisasi terkenal
dan besar seperti FPI, ataupun ada tokoh-tokoh besar, yang ingin membungkam
mulut masyarakat yang berbeda pendapat dengan mereka. Jangan kotori negara
ini karena kepentingan pribadi. Jangan kotori negara ini karena sifat burukmu. Jangan kotori perjuangan negara ini, karena dasar negara ini tidak
sesuai dengan pemikiranmu. Ini negara kesatuan. Kalau prinsip mu tidak sama
dengan prinsip negara ini, silahkan keluar, tidak ada yang melarang.
Untuk generasi penerus,
saudara-saudara setanah air dan sebangsa, dari sabang sampa merauke, saya ingin
bersuara lewat tulisan ini, jangan pernah berhenti bersuara. Tapi ingat juga
akan dasar negara kita, jangan menyuarakan hal-hal yang tidak benar dan
melenceng dari pancasila, melainkan suarakan lah kebenaran. Jangan sampai kita
menjadi kambing hitam, dari oknum-oknum tidak bertanggung-jawab. Saya juga
masih harus belajar banyak dalam menyuarakan pendapat saya, dan saya meminta maaf
jika tulisan saya menyinggung beberapa pihak, tetapi satu tujuan saya menulis
tulisan ini. Supaya kesatuan negara ini tidak dihancurkan, oleh oknum-oknum
yang jelas-jelas dapat memecah-belahkan Indonesia, tetapi menganggap diri
mereka sebagai pahlawan kebenaran. Selalu ingat sejarah, dan perjuangan
pahlawan-pahlawan kita yang bersatu, dan berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan
Indonesia.
Tulisan ini saya tutup
dengan salah satu perkataan Bung Karno,
“Negara Republik
Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan
milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik
kita semua dari Sabang sampai Merauke!” – Bung Karno