Rabu, 30 November 2016

Budaya Korupsi

Budaya Korupsi di Nusantara


Ditulis oleh : Samantha Y. B

   Korupsi, mungkin kata itu tidak asing lagi di kuping masyarakat Indonesia, termasuk anda. Negara Indonesia, negara yang diperjuangkan bertahun-tahun oleh para pahlawan negara, segalanya mereka korbankan demi kemerdekaan negara ini, dari materi, energi, sampai jiwa raganya mereka pertaruhkan. Tetapi ketika Indonesia sudah merdeka sekarang, moral dan etika beberapa rakyatnya sangat memalukan dan membuat negara lain, bahkan sesama rakyat Indonesia lainnya terkadang memandang Indonesia miris. Salah satu contoh hal yang memalukan di Indonesia adalah budaya korupsi yang dilakukan pejabat-pejabat negara Indonesia sendiri. Kasus-kasus korupsi terus-menerus terbongkar, tetapi sepertinya pelaku-pelaku korupsi tidak ada habis-habisnya muncul, mereka seperti tidak menyadari fakta bahwa diri merekalah yang membuat negara ini hari demi hari semakin jatuh, dan tidak dapat berkembang secepat negara lain. Mereka tidak tahu tindakan korupsi dapat menghancurkan sebuah negara yang diperjuangkan mati-matian oleh para pahlawan dahulu. Seharusnya kita dapat belajar dari sejarah penjajah Indonesia, negara Belanda, yang dahulu memiliki VOC, tetapi akhirnya hancur karena satu masalah, yang sekarang sedang dialami oleh negara kita juga yaitu korupsi.

   Walaupun Indonesia dijajah paling lama oleh Belanda, dan otomatis itu berarti rakyat Indonesia tersiksa di bawah penjajahan Belanda, tidak berarti kita sebagai warga negara Indonesia tidak dapat belajar dari kegagalan penjajah negara kita tersebut. Korupsi pejabat VOC dimulai ketika adanya perubahan dasar kepemimpinan pada tahun 1749, saat itu raja akhirnya menguasai seluruh kepemimpinan VOC. Sedangkan, para pejabat/pengurus VOC pun mulai mengabaikan kepentingan VOC, dan fokus untuk memperkaya diri mereka sendiri. Sangat disayangkan, karena pada abad ke 17 sampai 18, VOC mengalami puncak kejayaannya dalam segala aspek (pendidikan, ekonomi, perdagangan, pelayaran, dll), dan hal-hal tersebut hancur karena kelakuan atau ketamakkan para pejabat VOC. Belum selesai disitu, para pejabat tersebut juga semakin gila hormat, dan memberi peraturan-peraturan yang tidak masuk akal, dan diciptakan hanya karena kesombongan diri mereka sendiri. Seperti ketika rakyat Eropa berpapasan dengan para pejabat mereka harus menundukkan kepala, sedangkan jika berpapasan dengan rakyat non-Eropa, rakyat tersebut harus menyembah para pejabat tersebut. 

   Jika dibandinkan dengan keadaan Indonesia sekarang, dapat kita katakan masalah yang dihadapi Belanda sama juga dengan yang dihadapi Indonesia, yaitu budaya korupsi oleh para pejabatnya sendiri. Tetapi perbedaan antara kondisi Belanda (VOC) dengan Indonesia sekarang memang tidak dapat dikatakan sama. Belanda pada saat dihadang masalah korupsi sudah pernah mencapai puncak kejayaannya, dalam segala aspek (ekonomi, pendidikan, kolonisasi, dll), sedangkan Indonesia masih dalam tahap berkembang, belum mencapai puncak kejayaannya. Jika VOC yang sudah mencapai kejayaannya saja dapat hancur sedikit demi sedikit karena masalah korupsi, bagaimana dengan nasib negara-negara berkembang lainnya? Yang dihadang masalah korupsi juga, tetapi belum mencapai kejayaannya sendiri, seperti salah satu contohnya Indonesia. 

  Maka itu, marilah kita bersama-sama seluruh masyarakat Indonesia, bersatu tanpa memandang golongan, melawan kejahatan korupsi, yang tentunya dapat kita berantas. Korupsi tidak akan terjadi jika terdapat rasa nasionalisme yang tinggi, dan nilai-nilai kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian pada sesama rakyat. Mari kita junjung revolusi mental seperti yang sudah disuarakan Presiden Indonesia Ke-7, Joko Widodo. Karena setinggi apapun pendidikan yang dianut seseorang,  tidak akan berguna jika tidak diimbangi dengan karakter yang baik. 



notes: mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan tahun. 
sumber informasi: http://www.gurusejarah.com/2014/09/voc-menuju-kebangkrutan.html